Kalau dulu begadang demi produktivitas dianggap keren, 2026 justru melahirkan tren sebaliknya: sleepmaxxing — upaya memaksimalkan durasi dan kualitas tidur hingga menjadi gaya hidup. Tren ini ramai dibicarakan di media sosial, terutama TikTok, tempat pengguna membagikan rutinitas malam hingga cara-cara yang mereka yakini bisa membuat istirahat lebih maksimal.

Istilahnya berakar dari budaya “maxxing” yang sudah lebih dulu populer: looksmaxxing (mengoptimalkan penampilan), productivity maxxing (mengoptimalkan produktivitas), hingga fitness maxxing (mengoptimalkan kebugaran). Kini fokusnya bergeser ke ranjang. Tidur yang optimal bukan lagi soal tidak mengantuk, melainkan soal pemulihan otot, keseimbangan hormon, konsentrasi, hingga suasana hati.

Ilustrasi perempuan tidur nyenyak di tempat tidur pada pagi hari

Mengapa tren ini meledak sekarang?

Jawabannya sederhana: banyak orang menyadari tidurnya selama ini jauh dari kata cukup. Survei Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026 yang dirilis Herbalife Indonesia mencatat 72 persen Gen Z dan 79 persen Milenial di Indonesia mengaku lebih rutin melakukan aktivitas kebugaran, dan 52 persen Gen Z ingin memperbaiki pola istirahat malam mereka. Bahkan 74 persen Gen Z menempatkan isu kesehatan mental sebagai kebutuhan mendesak.

Teknologi ikut memanaskan tren ini. Wearable seperti sleep tracker dan smart ring membuat kualitas tidur jadi angka yang terlihat: durasi, fase deep sleep, hingga detak jantung saat istirahat. Banyak orang kaget karena skor tidurnya tidak sebaik yang dikira. Di sisi lain, CBS News melaporkan bahwa di kalangan generasi muda, tidur kini dianggap sejajar dengan olahraga dan perawatan diri sebagai bagian dari gaya hidup sehat — bukan lagi sekadar jeda antaraktivitas.

Apa saja praktik sleepmaxxing?

Konten sleepmaxxing di media sosial menampilkan spektrum kebiasaan yang lebar, dari yang sederhana sampai yang ekstrem:

  • Jadwal konsisten: tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari untuk menjaga ritme tubuh.
  • Digital sunset: menghentikan penggunaan gadget sekitar satu jam sebelum tidur.
  • Kamar yang dirancang untuk tidur: lampu redup, kamar gelap dan sejuk, diffuser aromaterapi, cooling mattress.
  • Pemantau tidur: sleep tracker, white noise machine, hingga aplikasi rutinitas malam.
  • Metode kontroversial: mengonsumsi suplemen (seperti magnesium), mouth taping (plester mulut agar tidur sambil bernapas lewat hidung), dan alat pelebar hidung.
Seseorang tidur malam yang tenang, ilustrasi pentingnya kualitas tidur

Tidak semua metode aman

Penting dicatat: tidak semua metode sleepmaxxing punya manfaat yang setara. Sejumlah ahli mengingatkan adanya risiko jika seseorang mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kondisi dan kebutuhannya.

Carleara Weiss, penasihat ilmu tidur di Aeroflow Sleep, yang dikutip Healthline pada Agustus 2026, mengingatkan agar tidur tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus terus ditingkatkan lewat pembelian berbagai produk. Fokus utamanya tetap kesehatan dan kebiasaan yang mendukung kualitas istirahat. Kebiasaan sederhana seperti jadwal tidur yang konsisten dan membatasi layar sebelum tidur justru punya dasar yang lebih kuat daripada gadget atau plester yang viral.

Aturan amannya: jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas, konsultasikan ke tenaga profesional. Jangan mendiagnosis diri sendiri hanya bermodal video TikTok.

Naik kelas: dari sleepmaxxing ke sleep tourism

Tren ini bahkan merambah ke dunia liburan. Istilah sleep tourism kini dipakai untuk pola wisata baru: merancang perjalanan khusus untuk istirahat dan pemulihan, bukan untuk mengejar atraksi. Pada September 2026, platform pemesanan Agoda merilis rekomendasi enam destinasi Asia yang dinilai cocok untuk wisata berbasis tidur: Kinosaki Onsen (Jepang), Khao Yai (Thailand), Sumba (Indonesia), Damyang (Korea Selatan), Danau Ba Be (Vietnam), dan Alishan (Taiwan).

Sumba masuk daftar karena dianggap punya salah satu langit malam tergelap di Indonesia, ritme hidup yang lebih lambat, dan polusi cahaya yang minim — kombinasi yang membantu mereset ritme sirkadian secara alami. Agoda menyebut daftar ini sebagai inspirasi perjalanan, bukan studi ilmiah tentang kualitas tidur, namun pesannya jelas: industri pariwisata mulai menilai liburan dari kualitas istirahat, bukan cuma jumlah destinasi yang dikunjungi.

Pantai dan langit biru di Sumba, salah satu destinasi sleep tourism rekomendasi Agoda

Cara memulai tanpa beli apa-apa

Kabar baiknya, versi paling ampuh dari sleepmaxxing justru gratis. Kebiasaan dasar yang konsisten mengalahkan deretan produk viral:

  1. Tidur dan bangun di jam yang sama, termasuk akhir pekan.
  2. Jauhkan layar satu jam sebelum tidur; ganti dengan membaca atau journaling.
  3. Buat kamar gelap, sejuk, dan minim suara.
  4. Batasi kafein dari sore hari.
  5. Jadwalkan waktu tidur seperti menjadwalkan rapat — non-negosiasi.

Tidur tidak lagi dipandang sebagai aktivitas pasif. Dan bagi Generasi Z yang tumbuh dengan budaya hustle, delapan jam tidur berkualitas kini justru jadi simbol paling modern: istirahat yang serius. Tren ini mungkin tak bertahan selamanya dalam bentuknya yang sekarang, tapi kesadaran di baliknya — bahwa tubuh butuh pulih — layak bertahan.

Untuk pola hidup sehat lainnya, baca juga tren lari 2026 yang juga jadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia.

FAQ

Apa itu sleepmaxxing?

Sleepmaxxing adalah tren mengoptimalkan durasi dan kualitas tidur melalui berbagai kebiasaan, rutinitas malam, hingga produk pendukung. Istilahnya berasal dari budaya "maxxing", yakni memaksimalkan aspek tertentu dalam hidup.

Apakah semua metode sleepmaxxing aman?

Tidak semuanya. Praktik dasar seperti jadwal konsisten dan mengurangi layar sebelum tidur relatif aman. Namun metode ekstrem — misalnya suplemen sembarangan atau plester mulut — punya risiko dan belum tentu cocok untuk semua orang. Ahli menyarankan untuk tidak mengejar kesempurnaan tidur lewat pembelian produk.

Apa itu sleep tourism?

Sleep tourism adalah pola wisata di mana perjalanan dirancang khusus untuk istirahat dan pemulihan, bukan untuk mengejar atraksi. Agoda pada September 2026 merekomendasikan enam destinasi Asia untuk tren ini, termasuk Sumba di Indonesia.

Bagaimana cara mulai sleepmaxxing tanpa membeli gadget?

Mulai dari kebiasaan gratis: tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari, terapkan digital sunset satu jam sebelum tidur, buat kamar gelap dan sejuk, serta batasi kafein dari sore hari.

Sumber

Gambar: Pexels (2) dan IDN Media (1), diakses 20 Oktober 2026.