Ada kabar gembira untuk para pemburu langit malam: hujan meteor Orionid mencapai puncaknya pada malam ini, Rabu 21 Oktober, hingga dini hari Kamis 22 Oktober 2026. Fenomena tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai daerah di Indonesia — cukup dengan mata telanjang, tanpa teleskop.

Hujan meteor Orionid melintas di langit malam

Menurut data astronomi yang dikutip dari NASA dan Time and Date, hujan meteor Orionid bisa menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam dalam kondisi langit yang benar-benar gelap. International Meteor Organization mencatat angka idealnya (ZHR) sekitar 20 meteor per jam. Angka tersebut bukan jaminan — polusi cahaya, awan, dan cahaya Bulan bisa membuat jumlah yang terlihat jauh lebih sedikit.

Jam Terbaik Mengamati: 02.00–05.00 WIB

Waktu pengamatan terbaik untuk wilayah Indonesia adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar pada 22 Oktober 2026. Di Jakarta dan sekitarnya, titik pancar meteor mulai muncul di cakrawala timur sekitar pukul 22.20 WIB dan semakin tinggi seiring berjalannya malam.

Untuk zona waktu lain: sekitar 03.00–06.00 WITA untuk Indonesia Tengah, dan menyesuaikan waktu setempat sebelum fajar untuk Indonesia Timur. Rentang ini merupakan panduan, bukan jam pasti meteor muncul — meteor Orionid melintas secara tidak teratur.

Ke Arah Mana Memandang?

Hujan meteor Orionid memiliki titik pancar di sekitar rasi bintang Orion — di Indonesia dikenal juga sebagai rasi Waluku — tepatnya sedikit ke utara bintang terang Betelgeuse. Pada malam hari, cari arah timur, lalu posisi rasi tersebut akan bergerak semakin tinggi hingga pagi.

Namun jangan terpaku hanya pada satu titik. Kilatan meteor bisa muncul di berbagai bagian langit, jadi pilih lokasi dengan pandangan seluas mungkin dan biarkan mata menjelajah.

Meteor melintasi langit malam saat hujan meteor

Di Mana Lokasi Terbaik?

Orionid bisa diamati dari berbagai wilayah selama langit cerah dan polusi cahaya rendah. Pilihan lokasi ideal:

Daerah pedesaan yang jauh dari lampu kota memberi peluang terbaik melihat meteor redup. Perbukitan dan kawasan pegunungan dengan pandangan langit terbuka juga cocok, selama cuaca cerah dan aksesnya aman. Pantai yang minim penerangan buatan punya cakrawala luas yang membantu pengamatan. Lapangan terbuka tanpa banyak bangunan tinggi juga bisa jadi alternatif.

Bagi warga kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, atau Makassar, pengamatan akan lebih menantang karena cahaya buatan. Solusinya: geser ke pinggiran kota atau kawasan dengan penerangan rendah.

5 Persiapan Sederhana Sebelum Mengamati

1. Periksa prakiraan cuaca. Langit tanpa awan adalah syarat mutlak. Awan tebal berarti pengamatan gagal total.

2. Hindari cahaya buatan. Lampu jalan, gedung, dan kendaraan menurunkan kemampuan mata menangkap meteor redup.

3. Istirahatkan mata 15–30 menit. Beri waktu mata beradaptasi dengan gelap. Selama itu, hindari menatap layar ponsel yang terlalu terang.

4. Bawa kursi santai atau alas. Pengamatan bisa berlangsung berjam-jam; posisi rebah lebih nyaman daripada terus mendongak.

5. Bersabar. Meteor muncul tidak teratur. Tidak ada yang bisa memprediksi menit kemunculannya, jadi siapkan waktu yang cukup.

Foto jejak cahaya meteor Orionid dari serpihan Komet Halley

Serpihan Komet Halley yang Terbang 66 Km per Detik

Hujan meteor Orionid berasal dari serpihan material Komet 1P/Halley. Ketika komet mengelilingi Matahari, ia meninggalkan jejak debu di lintasannya. Saat Bumi melintasi jalur itu setiap Oktober, partikel-partikel debu memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik — salah satu yang tercepat di antara hujan meteor tahunan — lalu terbakar dan tampak sebagai kilatan cahaya.

Komet Halley sendiri mengelilingi Matahari dalam periode sekitar 75 tahun. Ia terakhir melintas dekat Bumi pada 1986 dan, menurut Universe Today, diperkirakan kembali pada 2061. Jadi, meteor yang Anda lihat malam ini adalah "souvenir" berusia ratusan tahun dari komet legendaris tersebut.

Catatan: Cahaya Bulan Bisa Mengganggu

Tahun ini, Bulan berada dalam fase waxing gibbous sekitar 78 persen terang pada malam puncak, menjelang bulan purnama pada 26 Oktober. Cahayanya berpotensi menenggelamkan meteor-meteor yang redup. Jangan terlalu kecewa jika jumlah yang terlihat tidak sebanyak perkiraan — itu normal.

Kabar baiknya: Orionid aktif mulai 2 Oktober hingga 7 November 2026, dengan puncak yang cukup lebar. Kalau malam ini mendung, Anda masih bisa mencoba malam 22 atau 23 Oktober — aktivitasnya masih cukup tinggi di sekitar tanggal puncak.

FAQ

Kapan puncak hujan meteor Orionid 2026?
Malam Rabu 21 Oktober hingga dini hari Kamis 22 Oktober 2026, dengan waktu terbaik setelah tengah malam sampai menjelang fajar.

Apakah bisa dilihat dari Indonesia?
Ya, Orionid bisa diamati dari belahan Bumi utara maupun selatan, termasuk seluruh Indonesia, selama cuaca cerah.

Apakah perlu teleskop?
Tidak. Meteor bergerak sangat cepat sehingga mata telanjang justru lebih cocok. Teleskop atau teropong tidak berguna untuk berburu meteor.

Berapa banyak meteor yang bisa terlihat?
Sekitar 10–20 meteor per jam di langit yang benar-benar gelap. Di kota dengan polusi cahaya, jumlahnya bisa jauh lebih sedikit.

Apa yang membuat Orionid spesial?
Meteornya berasal dari serpihan Komet Halley — komet paling terkenal dalam sejarah — dan melesat dengan kecepatan 66 km per detik.

Sumber: "Fenomena Hujan Meteor Hiasi Langit Indonesia Oktober 2026" (topik.id, 10 Oktober 2026, merujuk NASA dan Time and Date); "Orionid, Taurid Meteors Haunt October Skies" (universetoday.com); "Orionid Meteor Shower 2026: When and How to See It" (starwalk.space). Tanggal akses: 21 Oktober 2026.