Festival Bulan Sawunggaling 2026 mencapai puncaknya hari ini, Minggu (18/10/2026), di kawasan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya. Rangkaian acara dimulai sejak pukul 06.30 WIB, dengan pusat kegiatan membentang dari kawasan Cagar Budaya Makam Raden Sawunggaling hingga Lapangan Poral.

Suasana puncak Festival Bulan Sawunggaling 2026 di Lidah Wetan, Surabaya

Perhelatan yang memadukan panahan tradisional, kirab budaya, dan pertunjukan seni ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap Raden Sawunggaling, tokoh legenda Kota Pahlawan, sekaligus upaya merawat tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat. Penyelenggaranya adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Lidah Wetan.

Sayemboro Jemparingan Piala Wali Kota

Dua agenda utama mewarnai puncak festival. Yang pertama adalah Sayemboro Jemparingan Adipati Raden Sawunggaling Piala Wali Kota Surabaya 2026 — lomba panahan tradisional khas Jawa.

Jemparingan bukan sekadar soal ketepatan bidikan. Tradisi memanah ini juga lekat dengan latihan konsentrasi, pengendalian diri, dan ketekunan. Sayemboro dibagi dalam beberapa kategori: peserta dewasa putra dan putri bertanding pada jarak 30 meter, kategori usia 18 tahun ke bawah pada jarak 20 meter, dan usia 13 tahun ke bawah pada jarak 15 meter.

Keterlibatan peserta lintas usia ini membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi lewat pengalaman langsung, bukan sekadar menyaksikannya sebagai pertunjukan.

Kirab Budaya dari Makam ke Lapangan Poral

Peserta dan tamu undangan pada puncak Festival Bulan Sawunggaling 2026

Agenda utama kedua adalah kirab budaya bertajuk Angkat Budaya R. Sawunggaling. Rombongan peserta bergerak dari kawasan makam menuju Lapangan Poral dengan iringan dan penampilan kelompok budaya.

Berdasarkan susunan acara, tamu undangan disambut dengan kalung bunga dan mengikuti tabur bunga. Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan risalah Raden Sawunggaling oleh Cak Hilmi, diiringi 20 penari. Pemberangkatan festival dikemas dengan unsur jemparingan: setelah penampilan musik dan suluk jemparingan, tamu undangan menyerahkan busur panah sebagai bagian dari seremoni sebelum rombongan memulai kirab.

Di sepanjang perjalanan, setiap kelompok peserta menampilkan mini teatrikal bertema Salam Suroboyo yang dinilai juri di Balai RW 2 Lidah Wetan. Sesampainya di Lapangan Poral, acara dilanjutkan dengan Tari Ngrekso Sawunggaling oleh mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), orasi Sawunggaling Muda yang disampaikan Cak Febryan selaku Ketua Karang Taruna Surabaya, serta pengumuman pemenang Festival Salam Suroboyo dan penyerahan hadiah.

Jejak Sawunggaling di Lidah Wetan

Pemilihan Lidah Wetan sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki keterkaitan sejarah dengan Raden Sawunggaling, termasuk keberadaan makam yang diperlakukan sebagai cagar budaya dan sejumlah penanda lokal yang mengingatkan masyarakat pada tokoh tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Heri Purwadi, sebelumnya menjelaskan bahwa sebagian besar peninggalan yang dikaitkan dengan Sawunggaling berada di Lidah Wetan. Salah satu penanda yang mudah dikenali adalah patung ayam jago di persimpangan jalan Lidah Wetan, yang menjadi tetenger kawasan yang dikaitkan dengan petilasan Sawunggaling.

Penampilan seni pada Festival Bulan Sawunggaling 2026

Sawunggaling sendiri dikenal luas dalam tradisi tutur dan cerita rakyat Surabaya. Festival ini menjadi sarana memperkenalkan kembali kisah lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Rangkaian Festival 4–18 Oktober 2026

Festival Bulan Sawunggaling berlangsung selama dua pekan, 4–18 Oktober 2026. Sebelum puncak acara, rangkaian kegiatan telah diisi kirab budaya dan tari remo massal yang melibatkan sekitar 1.500 penari pada 4 Oktober, pertunjukan campursari pada 7 Oktober, serta agenda tasyakuran.

Pada 11 Oktober, kegiatan seni dan budaya juga digelar melalui kerja sama dengan Unesa. Rangkaian berikutnya mencakup sarasehan budaya, haul akbar, serta sejumlah agenda lain yang berpusat di Lidah Wetan.

Berbagai kegiatan itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui banyak pendekatan. Tradisi tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat menjadi ruang perjumpaan warga, tempat generasi muda belajar, dan sarana memperkuat identitas kampung.

Sebagai catatan redaksi: kemeriahan festival tahunan saja tidak cukup. Dokumentasi sejarah, pengenalan cerita rakyat yang bertanggung jawab, serta pemeliharaan situs dan penanda budaya tetap dibutuhkan agar jejak masa lalu tidak sekadar menjadi latar acara seremonial. Baca juga: Reuni Momo dan Geisha di Synchronize Fest 2026.

FAQ

Apa itu jemparingan?

Jemparingan adalah tradisi panahan khas Jawa. Selain ketepatan bidikan, tradisi ini menekankan konsentrasi, pengendalian diri, dan ketekunan. Pada puncak Festival Sawunggaling 2026, sayemboro jemparingan memperebutkan Piala Wali Kota Surabaya dengan kategori jarak 30 meter (dewasa), 20 meter (usia 18 tahun ke bawah), dan 15 meter (usia 13 tahun ke bawah).

Kapan dan di mana puncak Festival Sawunggaling 2026?

Puncaknya digelar Minggu, 18 Oktober 2026, mulai pukul 06.30 WIB di kawasan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya — dari Cagar Budaya Makam Raden Sawunggaling hingga Lapangan Poral.

Siapa Raden Sawunggaling?

Raden Sawunggaling adalah tokoh legenda dalam tradisi tutur dan cerita rakyat Surabaya. Sebagian besar peninggalan yang dikaitkan dengannya berada di Lidah Wetan, termasuk makam yang diperlakukan sebagai cagar budaya dan patung ayam jago di persimpangan jalan kawasan tersebut.

Acara apa saja yang sudah digelar sebelum puncak?

Di antaranya kirab budaya dan tari remo massal dengan sekitar 1.500 penari (4 Oktober), pertunjukan campursari (7 Oktober), tasyakuran, agenda seni budaya bersama Unesa (11 Oktober), sarasehan budaya, dan haul akbar.

Dipublikasikan: 18 Oktober 2026