MBG kehadiran siswa menjadi sorotan setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat anak lebih rajin datang ke sekolah. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta, Minggu, 1 November 2026, menanggapi kerja sama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menurut Mu'ti, ada banyak penelitian yang mengaitkan program makan gratis dengan tingkat kehadiran anak. "Jadi banyak anak yang berangkat ke sekolah itu karena akan makan sehat bergizi," ujarnya, seperti dikutip dari laporan Antara. Ia mengibaratkan daya tarik itu dengan tradisi Jumat Berkah di masjid, yang membuat orang datang berbondong-bondong. Bedanya, MBG hadir setiap hari sekolah, bukan seminggu sekali.
Dari sekadar kenyang menjadi media pendidikan karakter
Mu'ti tidak berhenti pada soal kehadiran. Ia menilai MBG juga bisa menjadi sarana pembentukan karakter sejak dini. Anak belajar mengantre dengan tertib, menjaga kebersihan, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta menghargai makanan yang mereka terima. Kebiasaan kecil yang diulang setiap hari itu, kata dia, adalah bagian dari pendidikan yang tidak selalu tertulis di buku pelajaran.
Dari sisi tata kelola, Kemendikdasmen memastikan pendataan penerima manfaat sudah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Integrasi ini dimaksudkan agar bantuan tepat sasaran, hanya untuk peserta didik yang terdata resmi. Kepala BGN Sudaryono mengapresiasi dukungan tersebut, termasuk pembangunan wastafel di sekolah, alokasi waktu khusus untuk sesi makan, dan penguatan edukasi gizi di kurikulum.
Pada Juni 2026, Mu'ti menyebut MBG telah menjangkau lebih dari 43 juta siswa per 10 Juni, atau 80,7 persen dari sekitar 53 juta sasaran. Angka itu menunjukkan skala program yang sangat besar, dan justru karena itulah persoalan di lapangannya ikut membesar.
Sisi lain: ribuan korban keracunan sejak Juli
Klaim soal kehadiran itu datang bersamaan dengan catatan keamanan pangan yang belum beres. Dalam rapat dengan Komisi IX DPR pada 3 September 2026, Sudaryono melaporkan 5.482 korban keracunan sejak 22 Juli. Korban tersebut tersebar dalam 71 insiden yang bersumber dari 62 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut BGN, lebih dari 80 persen kasus disebabkan pelanggaran prosedur operasi standar, antara lain pengiriman makanan di luar batas waktu aman dan kapasitas dapur yang tidak sesuai jumlah penerima. Saat itu tercatat 27.022 dapur aktif. BGN menutup sementara sejumlah dapur yang melanggar dan menyatakan tidak akan membantu pengelola bila ditemukan kelalaian atau unsur pidana.
Kontras ini penting dibaca secara utuh. Kehadiran siswa yang meningkat adalah kabar baik, tetapi tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan paling dasar: apakah makanan yang membuat anak datang itu aman dimakan? Program sebesar MBG tidak cukup dinilai dari niat dan jangkauannya saja.
Yang perlu dibenahi agar klaimnya bertahan
Pertama, transparansi data. Sejauh ini belum terlihat rincian metodologi dan sampel penelitian yang dirujuk Mu'ti soal kaitan MBG dan kehadiran. Publikasi data itu akan membuat klaimnya lebih mudah diuji, bukan sekadar dipercaya.
Kedua, disiplin dapur. Pelanggaran prosedur seperti pengiriman melewati batas waktu aman adalah masalah yang bisa dicegah dengan pengawasan harian, bukan sekadar penutupan setelah insiden terjadi.
Ketiga, saluran laporan yang cepat. Orang tua dan sekolah perlu tahu ke mana melapor begitu ada gejala keracunan, dan laporan itu harus ditindaklanjuti sebelum korban bertambah.
MBG punya dua wajah sekaligus: magnet yang mengantar anak ke sekolah, dan risiko yang mengintai bila tata kelolanya longgar. Masa depan program ini akan ditentukan oleh wajah yang mana yang lebih serius dibenahi.
FAQ
Apa klaim Mendikdasmen soal MBG pada 1 November 2026?
Abdul Mu'ti menyebut MBG mendongkrak kehadiran siswa, merujuk pada sejumlah penelitian yang mengaitkan makan gratis dengan kehadiran anak di sekolah.
Berapa korban keracunan MBG yang dilaporkan BGN?
Dalam rapat dengan Komisi IX DPR pada 3 September 2026, Kepala BGN Sudaryono melaporkan 5.482 korban keracunan sejak 22 Juli, dalam 71 insiden dari 62 dapur SPPG.
Apa penyebab utama kasus keracunan MBG menurut BGN?
Lebih dari 80 persen kasus disebabkan pelanggaran prosedur operasi standar, seperti pengiriman di luar batas waktu aman dan kapasitas dapur yang tidak sesuai jumlah penerima.
Sumber: NTV News (berdasarkan laporan Antara), "Mendikdasmen Sebut Program MBG Tingkatkan Kehadiran Siswa", 1 November 2026; KosongSatu.ID, "Mendikdasmen Klaim MBG Dongkrak Kehadiran Siswa, Tapi Kasus Keracunan Masih Membayangi", 1 November 2026. Tautan internal: Bulan Guru Nasional 2026.




