Ilustrasi dukungan untuk peduli kesehatan jiwa

Jakarta, 21 Oktober 2026 — Angka dari Kementerian Kesehatan ini membuat kita perlu mikir ulang soal depresi di Indonesia. Dari sekitar 2,5 hingga 3 juta penduduk berusia di atas 15 tahun yang mengalami depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Sisanya — alias 9 dari 10 orang — belum terjangkau layanan kesehatan.

Data tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, dalam keterangannya Senin (12/10/2026). Ia menyorot satu kelompok yang bebannya paling berat: anak muda berusia 15 sampai 24 tahun.

Anak Muda 15-24 Tahun Paling Terpukul

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 1,4 persen. Kelompok usia 15-24 tahun justru mencatatkan angka tertinggi: 2 persen.

"Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun," ujar Endang.

Kemenkes juga merujuk data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME): gangguan jiwa termasuk penyumbang besar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia. Depresi bukan sekadar "galau" — ini soal tahun-tahun produktif yang tergerus.

Dua Tembok: Akses dan Stigma

Kenapa angka pengobatannya kecil sekali? Kemenkes menyebut dua persoalan utama: keterbatasan akses layanan dan stigma sosial. Stigma membuat banyak orang enggan mencari pertolongan — takut dicap, takut dinilai. Di titik inilah dukungan lingkungan dan edukasi publik menjadi bagian penting dari penanganannya.

Di sisi layanan, jaring pengaman mulai diperkuat. Saat ini 6.549 puskesmas — sekitar 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia — sudah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Pemerintah menargetkan seluruh puskesmas menyediakan layanan tersebut dalam dua tahun ke depan.

Gedung puskesmas sebagai fasilitas layanan kesehatan jiwa tingkat pertama

Skrining Masif Lewat Cek Kesehatan Gratis

Selain puskesmas, Kemenkes menyusupkan skrining kesehatan jiwa ke Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta layanan rutin ibu hamil dan ibu nifas melalui antenatal care (ANC). Hingga kini, skrining kesehatan jiwa sudah dilakukan terhadap 71,86 juta penduduk berusia di atas 7 tahun.

Hasilnya patut dicermati: indikasi gejala depresi tertinggi justru ditemukan pada kelompok ibu hamil dan ibu nifas — 7,1 persen — disusul kelompok usia sekolah dan remaja dengan 2,3 persen. Bagi yang membutuhkan dukungan, Kemenkes menyediakan layanan Healing119.id lewat telepon maupun percakapan daring; layanan itu sudah diakses 284.916 pengguna.

Baca juga: Healing119 Tembus 600 Panggilan Sehari, Layani Krisis Kesehatan Jiwa

Ilustrasi perempuan yang tampak murung, menggambarkan gejala depresi

Kapan Sebaiknya Cari Bantuan Profesional?

Redaksi bukan tenaga medis, tetapi ada panduan umum yang layak dipegang. Jika kesedihan, kehilangan minat, atau kelelahan berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas harian, hubungan, atau pekerjaan — itu sinyal untuk bicara dengan profesional. Puskesmas terdekat sebagian besar kini sudah melayani kesehatan jiwa, dan layanan seperti perhatian pada kualitas tidur juga berkaitan erat dengan kondisi mental.

Satu catatan yang ditekankan Kemenkes: jangan mendiagnosis diri sendiri dari konten media sosial. Skrining online hanya alat bantu awal, bukan pengganti penilaian tenaga kesehatan.

FAQ: Depresi di Indonesia

Berapa persen penderita depresi di Indonesia yang belum diobati?

Menurut Kemenkes, dari sekitar 2,5-3 juta penduduk usia 15 tahun ke atas yang depresi, hanya 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang belum terjangkau layanan kesehatan.

Kelompok usia mana yang paling terdampak depresi?

Kelompok usia 15-24 tahun, dengan prevalensi tertinggi 2 persen menurut SKI 2023 dan menjadi beban tertinggi menurut Kemenkes.

Di mana bisa mendapatkan layanan kesehatan jiwa?

Puskesmas — 64 persen di antaranya sudah melayani kesehatan jiwa dengan target 100 persen dalam dua tahun — skrining melalui Cek Kesehatan Gratis, serta layanan Healing119.id lewat telepon dan daring.

Apakah depresi bisa ditangani?

Depresi adalah kondisi medis yang bisa ditangani, misalnya lewat konseling, terapi, dan bila perlu obat di bawah pengawasan dokter. Langkah pertama dan terpenting adalah berani bicara dengan profesional kesehatan.

Sumber

OWRITE — Kemenkes ungkap data pengobatan depresi, keterangan dr. Maria Endang Sumiwi, 12 Oktober 2026 (diakses 21 Oktober 2026).