Tiga guru SMA SMART Ekselensia Indonesia meraih medali emas IRTC 2026 — kompetisi riset guru tingkat internasional yang digelar 13–17 Oktober 2026 di Kampus Universitas Indonesia, Depok. Mereka bersaing dengan delegasi pendidik dari 25 negara, dan menang lewat riset tentang pendidikan karakter berbasis proyek kewirausahaan dalam kegiatan kokurikuler.
Kompetisi ini bernama International Research Teacher Competition (IRTC), diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Universitas Indonesia. Pesertanya bukan siswa, melainkan para pendidik — sebuah ajang yang menempatkan guru sebagai peneliti, bukan sekadar pelaksana kurikulum.
Apa yang Diteliti Tiga Guru Ini?
Tim peraih emas terdiri dari Syahtriyah, S.IP., Gr.; Rudy Purwanto, S.Si., M.Pd.; dan Mulyadi, M.Pd., Gr. Mereka mempresentasikan karya ilmiah berjudul Strengthening Faith and Piety, Collaboration, and Independence Through Entrepreneurship Projects In Co-Curricular Activities at SMA SMART Ekselensia Indonesia.
Inti risetnya: mengintegrasikan nilai keimanan dan ketakwaan dengan kemampuan bekerja sama serta kemandirian siswa melalui proyek kewirausahaan yang dijalankan di luar jam pelajaran inti (kokurikuler). Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan praktik nyata di lingkungan sekolah mereka sendiri — bukan teori yang diimpor dari tempat lain.
Ini menarik karena pendidikan karakter sering kali berhenti di slogan. Yang diteliti tim ini justru mekanismenya: bagaimana nilai-nilai itu ditanamkan lewat proyek wirausaha yang konkret, bisa diamati, dan bisa direplikasi sekolah lain.
Sekolah dari Dana Zakat yang Membangun Ekosistem Riset
SMART Ekselensia Indonesia bukan sekolah biasa. Ia adalah sekolah berasrama tanpa biaya pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dhuafa yang memiliki prestasi. Programnya dikelola lewat pilar pendidikan Dompet Dhuafa, didukung dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf).
Anggota tim riset, Mulyadi, mempersembahkan medali itu untuk para siswa, donatur, dan seluruh civitas akademika yang konsisten mendukung budaya riset di sekolah. Katanya:
“Medali emas ini kami persembahkan untuk para siswa, para donatur, dan seluruh civitas akademika yang konsisten mendukung budaya riset di sekolah. Kemenangan ini adalah wujud nyata bahwa amanah dana zakat masyarakat tidak hanya menghadirkan sekolah gratis, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan bereputasi global,” ungkap Mulyadi.
Pernyataan itu menyentuh poin penting: dukungan dana tidak hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa, tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas guru dan mendorong inovasi pembelajaran. Medali emas IRTC 2026 menjadi buktinya.
Makna Kemenangan Ini untuk Pendidikan Indonesia
Ada dua hal yang patut digarisbawahi dari prestasi ini.
Pertama, guru yang meneliti itu mungkin. Narasi yang sering beredar adalah guru Indonesia terbebani administrasi dan tak punya ruang untuk riset. Tim SMART Ekselensia membuktikan bahwa dengan dukungan ekosistem sekolah, guru bisa menghasilkan karya ilmiah yang diakui dewan juri internasional — dari 25 negara, bukan kompetisi lokal.
Kedua, sekolah gratis bukan sekolah kelas dua. Sekolah ini membiayai siswanya dari dana umat, dan hasilnya bersaing di level global. Ini menantang anggapan bahwa kualitas pendidikan selalu berbanding lurus dengan besaran biaya yang dibayar orang tua. Investasi yang tepat — termasuk pada kapasitas guru — bisa mengalahkan keterbatasan anggaran.
Konteksnya juga relevan: dunia pendidikan Indonesia sedang didorong bertransformasi, dari digitalisasi pembelajaran hingga penguatan inovasi di pesantren, seperti diberitakan di artikel AI masuk pesantren beberapa waktu lalu. Prestasi riset guru ini melengkapi gambaran bahwa inovasi pendidikan tidak hanya datang dari teknologi, tetapi juga dari ruang kelas yang dikelola serius.
FAQ
Apa itu IRTC 2026?
International Research Teacher Competition, kompetisi riset internasional khusus pendidik yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bersama Universitas Indonesia. Edisi 2026 berlangsung 13–17 Oktober 2026 di Kampus UI, Depok, diikuti delegasi dari 25 negara.
Siapa saja guru yang meraih medali emas?
Syahtriyah, S.IP., Gr.; Rudy Purwanto, S.Si., M.Pd.; dan Mulyadi, M.Pd., Gr. — ketiganya guru SMA SMART Ekselensia Indonesia.
Apa itu Sekolah SMART Ekselensia Indonesia?
Sekolah berasrama tanpa biaya pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dhuafa yang berprestasi, dikelola lewat pilar pendidikan Dompet Dhuafa dengan dukungan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Sumber
- KBKNews.id — "Guru SMART Ekselensia Indonesia Raih Medali Emas IRTC 2026 Lewat Riset Pendidikan Karakter" (20 Oktober 2026). kbknews.id




