Ratusan petani dari lima wilayah di Kabupaten Tangerang menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), Senin (19/10/2026). Dengan long march, mereka menuntut langkah nyata pemerintah daerah menyelamatkan lahan sawah yang mengering dan terancam gagal panen.
Para petani berasal dari Tigaraksa, Jambe, Cisoka, Balaraja, dan Jayanti. Aksi ini dikoordinasikan oleh Gabungan Masyarakat Pemerhati Kebijakan Publik (GMPKP). Menurut laporan media lokal iGlobal.id, kekecewaan sudah menumpuk sejak lama: surat permintaan audiensi yang dilayangkan sebelumnya disebut diabaikan dengan alasan pihak dinas "sibuk dengan berbagai kegiatan".
Situasi memanas setelah muncul pernyataan Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, yang — menurut kutipan iGlobal.id — menantang para aktivis untuk menyampaikan aksi di muka umum jika tidak puas dengan kinerja dinas. Tantangan itu pun dijawab dengan demo hari ini.
Ahmad Suhud, Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten, menyebut ratusan hektare sawah di Tigaraksa, Jambe, Jayanti, dan Balaraja kini tidak berfungsi. Ironis, katanya, di saat pemerintah pusat gencar mensosialisasikan ketahanan pangan sebagai prioritas.
Tuntut Air, Bukan Pupuk
Koordinator GMPKP Kabupaten Tangerang, Alamsyah, menegaskan yang dibutuhkan petani adalah suplai air agar lahan bisa kembali digarap. Namun, menurut laporan Derap.TV, saat GMPKP mencoba berdialog dengan DPKP, pihak dinas justru membahas soal pupuk — respons yang dinilai tidak nyambung dengan persoalan.
"Kami menilai kepala dinas tidak mampu bekerja. Para petani meminta solusi agar persawahan bisa teraliri air, namun kadis malah membahas soal pupuk," ujar Alamsyah dalam pemberitaan tersebut.
Sisi Dinas: Klaim Bantuan Sudah Disalurkan
Di sisi lain, DPKP Kabupaten Tangerang mengklaim telah mengambil langkah mitigasi. Dalam pemberitaan media lokal, Kadis Ujang Sudiartono menjelaskan pihaknya menyalurkan bantuan alat dan sarana produksi pertanian (alsintan dan saprodi) kepada sejumlah kelompok tani pada 2026 — mulai dari traktor roda 2 (44 unit), cultivator (14 unit), pompa air (75 unit), handsprayer (88 unit), hingga pupuk NPK (25.825 kg), kompos (20.500 kg), dan benih padi (86.900 kg). Dinas juga menyebut kolaborasi dengan SGU, Syngenta Indonesia, dan BRIN untuk pola tanam alternatif.
Kesenjangan antara klaim mitigasi dinas dan tuntutan petani inilah yang menjadi inti persoalan. (Ini analisis redaksi: versi DPKP menekankan bantuan yang sudah disalurkan, sedangkan petani menekankan air sebagai kebutuhan paling mendesak yang belum terjawab.)
Latar: 311,8 Hektare Terancam Puso
Persoalan ini bukan baru kemarin. Pada 18 September 2026 lalu, DPKP mencatat sedikitnya 311,8 hektare lahan sawah di Kabupaten Tangerang terancam gagal panen (puso) akibat kemarau panjang yang dikaitkan dengan fenomena El Nino. Lahan terdampak tersebar di 17 kecamatan dan 27 desa — dari Cisoka, Tigaraksa, Gunung Kaler, Kronjo, hingga Kresek. Dinas sempat menyiapkan 6 ton benih padi untuk penanaman kembali di sekitar 240 hektare lahan yang berpotensi puso.
Kondisi petani yang terimpit cuaca ekstrem bukan cuma dialami petani padi. Baca juga Harga Ayam Hidup Anjlok, 180 Peternak Terancam Gulung Tikar.
FAQ
Kenapa petani Tangerang demo hari ini?
Mereka menuntut DPKP Kabupaten Tangerang memberikan solusi konkret atas kekeringan yang melumpuhkan sawah. Menurut media lokal, surat permintaan audiensi sebelumnya tidak direspons dan dialog awal dinilai tidak menyentuh akar masalah.
Apa tuntutan utama petani?
Suplai air agar lahan sawah bisa kembali digarap — bukan sekadar bantuan pupuk.
Siapa Ujang Sudiartono?
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang. Namanya disorot karena disebut menantang aktivis berdemo dan dinilai "tidak nyambung" dalam merespons tuntutan, menurut laporan iGlobal.id dan Derap.TV.
Berapa luas sawah yang terdampak?
Media lokal menyebut "ratusan hektare" mengering. Data DPKP per 18 September 2026 mencatat 311,8 hektare terancam gagal panen di 17 kecamatan.
Apa langkah yang diklaim dinas?
DPKP menyebut telah menyalurkan alsintan dan saprodi (traktor, pompa air, pupuk, benih) serta berkolaborasi dengan SGU, Syngenta Indonesia, dan BRIN — klaim yang belum diverifikasi pihak independen.




