Kalau kamu memperhatikan menu kedai kopi setahun terakhir, polanya mudah ditebak: susu sapi mulai punya pendamping. Setelah soy milk lebih dulu populer dan oat milk menyusul, kini giliran coconut milk yang disebut-sebut sebagai the next big thing di industri minuman Indonesia.
Prediksi itu disampaikan Hendri Kurniawan, World Coffee Competition Certified Judge sekaligus co-founder Jacoweek, dalam diskusi "Consumer Trend: Rising Healthier Alternative" di hari ketiga Ellenka Barista Festival (ELBAF) 2026 di Mal Puri Indah, Jakarta Barat, Sabtu, 31 Oktober 2026. Menurutnya, coconut milk baru ramai dalam dua hingga tiga tahun terakhir, dan Indonesia sedang menyusul tren yang sudah lebih dulu berjalan di negara lain.
Kenapa coconut milk naik daun sekarang?
Alasannya bukan satu, melainkan bertemunya tiga arus. Pertama, konsumen makin mencari minuman yang less guilty: lebih rendah gula, bernutrisi, tetapi tetap enak. Kedua, alternatif nabati bukan lagi sekadar pelengkap menu, melainkan arah baru industri kopi global dan lokal. Ketiga, karakter coconut milk sendiri: ringan, aromatik, dan memberi rasa yang berbeda dari soy atau oat, sehingga barista punya bahan baru untuk dimainkan.
Hendri menyebut, orang kini cenderung mencari yang lebih sehat dan lebih rendah lemak, dan coconut milk menjadi jawaban setelah soy milk dan oat milk sudah lebih dulu dikenal. "Produk ini diciptakan karena sekarang orang cenderung mencari yang lebih sehat, yang lebih rendah lemak," ujarnya dalam diskusi tersebut. Kalimat itu penting karena menunjukkan coconut milk diposisikan sebagai pilihan, bukan obat: ia menarik karena rasanya dan profilnya, bukan karena klaim ajaib.
Dari soy ke oat ke coconut: pola yang berulang
Setiap gelombang susu nabati mengikuti pola yang mirip. Awalnya hanya tersedia di kedai kopi spesial, lalu masuk ke menu jaringan besar, kemudian tersedia dalam kemasan retail untuk dibuat di rumah. Soy milk membuka jalan sebagai alternatif yang mudah diterima lidah Indonesia. Oat milk menyusul dengan tekstur creamy yang disukai barista untuk latte art. Coconut milk kini berada di tahap awal pola yang sama: sudah dikenal, mulai dicari, tetapi belum semasif dua pendahulunya.
Survei Voice of the Consumer 2026 dari PwC Indonesia, yang dirilis September 2026, memberi konteks kenapa gelombang ini punya pasar: 59 persen konsumen Indonesia memprioritaskan kehidupan yang lebih panjang dan sehat, 58 persen rutin berolahraga, dan 72 persen rutin menyiapkan makanan sendiri di rumah. Konsumen yang memasak sendiri cenderung juga memperhatikan apa yang mereka minum.
Cara memilih coconut milk yang benar-benar lebih sehat
Tidak semua produk berlabel coconut milk otomatis lebih sehat. Ini yang perlu dicek sebelum membeli:
1. Baca gula tambahannya. Keunggulan minuman nabati bisa hilang kalau produknya tinggi gula tambahan. Pilih varian tanpa pemanis tambahan (unsweetened) bila tujuannya memang mengurangi gula.
2. Periksa daftar bahannya. Produk yang baik punya daftar bahan pendek dan jelas. Waspadai produk yang sebagian besar isinya air dan gula, dengan santan kelapa hanya sedikit.
3. Sesuaikan dengan kebutuhanmu. Coconut milk umumnya rendah protein dibanding susu sapi dan soy milk. Kalau kamu mengandalkannya sebagai sumber protein harian, ia bukan pengganti yang sepadan. Tapi sebagai campuran kopi atau smoothie, ia cukup.
4. Coba dulu di kedai, baru beli kemasan. Rasa coconut milk bervariasi antar merek: ada yang ringan, ada yang pekat seperti santan. Satu gelas di kedai lebih murah daripada satu karton yang ternyata tidak cocok di lidahmu.
Apakah tren ini akan bertahan?
Sejarah tren minuman menunjukkan, yang bertahan bukan yang paling viral, melainkan yang paling mudah masuk ke kebiasaan harian. Coconut milk punya modal itu: bahan bakunya melimpah di Indonesia, rasanya familier bagi lidah yang tumbuh dengan santan, dan kedai kopi sudah mulai mengadopsinya. Tantangannya justru di sisi produsen: menjaga kualitas dan harga tetap terjangkau agar tidak hanya menjadi menu premium sesaat.
Buat konsumen, sikap terbaik adalah mencoba tanpa ekspektasi berlebihan. Coconut milk adalah alternatif yang menarik, bukan keharusan gaya hidup. Kalau rasanya cocok dan labelnya bersih, ia layak masuk rotasi minumanmu. Kalau tidak, soy milk atau oat milk tetap pilihan yang sama sahnya.
FAQ
Apa itu coconut milk?
Minuman nabati berbahan dasar kelapa, yang dipasarkan sebagai alternatif susu sapi, menyusul soy milk dan oat milk.
Apakah coconut milk lebih sehat dari susu sapi?
Tergantung produknya. Varian tanpa gula tambahan umumnya lebih ringan, tetapi kandungan proteinnya lebih rendah dari susu sapi dan soy milk. Selalu cek label nutrisinya.
Di mana tren ini dibahas?
Dalam diskusi "Consumer Trend: Rising Healthier Alternative" di Ellenka Barista Festival (ELBAF) 2026, Mal Puri Indah, Jakarta Barat, pada 31 Oktober 2026.
Apakah coconut milk cocok untuk kopi susu?
Ya, karakter aromatiknya memberi rasa berbeda pada kopi susu dan latte, dan barista mulai memakainya sebagai varian menu.
Sumber: Hidupgaya.co, "Tren Konsumsi Minuman Sehat Berkembang Pesat, Coconut Milk Mulai Banyak Dilirik" (2 November 2026), mengutip Hendri Kurniawan di ELBAF 2026; survei Voice of the Consumer 2026 PwC Indonesia (September 2026) sebagaimana dikutip IDEAJA.com (30 Oktober 2026). Artikel ini terbit 5 November 2026.




